Hubungan Agama dan Negara

Pasca kompromi konstitusional pada 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan republik Indonesia. Pada proklamasi ini Soekarno-Hatta membacakan dokumen proklamasi. Dokumen ini merupakan dokumen baru, pasalnya pada 22 Juli 1945 Panitia Persiapakan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) telah menyiapkan konsep deklarasi, yakni Piagam Jakarta. Poin pertama pada konsep deklarasi ini berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Namun sebelum terjadi proklamasi terjadi kompromi politik lintas agama, bahwa ada seorang Kristen bernama Maramis keberatan dengan bunyi pada teks tersebut. Kompromi kemudian tuntas hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia sama sekali tidak menyinggung agama manapun sebagai sebuah identitas kenegaraan.

Akhirnya bunyi sila berubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Hal ini berarti sebuah pengakuan bahwa Negara berketuhanan dengan memiliki keragaman agama. Negara menjamin bagi agama-agama untuk hidup dalam satu bangsa demi terwujudkan kehidupan yang harmoni lintas perbedaan. Posisi agama juga penting dalam membangun Negara, agama berperan membangun nilai-nilai etis berkeadaban, melahirkan tokoh-tokoh nasionalis pejuang kemerdekaan.

Namun identitas agama dalam kehidupan bernegara masih dipertanyakan oleh sebagian orang. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjelaskan bahwa ada dua jenis pemahaman mengenai hubungan agama dan Negara. Pertama, ada yang menganggap setelah Islam telah diakui maka Negara telah memiliki “watak Islam”. Islam berfungsi inspirasional. Kedua, ada kehendak “optimalis” yang menginginkan Islam harus dilaksanakan sepenuhnya, Negara harus diIslamkan agar Islam benar-benar tuntas (Wahid, 2010, hal. 21).

Akhir-akhir ini bahkan sentiment agama semakin tidak terbendung. Munculnya radikalisme-ekrtimis agama menjadi ancaman bagi hidup berbangsa. Kaum radikal agama ini mengusung wacana pendirian Negara agama, menurutnya pancasila, demokrasi, tidak sesuai dengan ajaran agama (syariat Islam). Sehingga memperjuangkan agama masuk ke wilayah-wilayah konstitusional mereka jadikan jihad untuk menegakkan agama sebagai dasar-dasar Negara.

Menurut Gus Dur antara Negara dan agama adalah saling terkait. Keduanya dapat menciptaan ikatan kebangsaan dalam kehidupan beragama (Wahid, 2010, hal. 71). Agama berperan sebagai motor penggerak etis, sedangkan Negara menjamin terwujudnya harmoni antar hidup beragama. Jadi pendirian Negara agama jelas tidak tepat bagi Indonesia, secara konstitusi Negara sama sekali tidak menyingkirkan agama begitu saja, agama tetap menjadi bagian fundamental bagi Negara.

Agama dan Negara di Indonesia tidak memiliki hubungan separasi atau sekuler, agama dan Negara terpisah. Tidak pula berbentuk integrasi, agama dan Negara disatukan kemudian terbentuk sebuah Negara agama (Syaiful, 2016, hal. 27). Yudi Latif menjelaskan bahwa hubungan agama dan Negara berbentuk diferensiasi, yakni adanya pembedaan peran. Agama lebih bertanggung jawab dalam mengembangkan tatanan kehidupan masyarakat (civil society) yang beradab dengan didukung keberadaban negara. Negara bertanggung jawab mengembangkan tatanan Negara (political society) yang beradab dengan didukung keberadaban masyarakat (Yudi, 2011, hal. 112).

Lalu bagaimana mengkhiri konflik hubungan agama dan Negara? Azyumardi Azra memandang bawa sulit dan hampir tidak mungkin mencegah keterlibatan agama dalam politik (Negara). Untuk itu diperlukan “jalan tengah”, jalan yang dimaksud adalah pancasila dan UUD 1945. Tegasnya, Indonesia bukanlah Negara agama (Islam), hanya karena penduduknya mayoritas Islam. Indonesia juga bukan Negara sekuler, karena pancasila dan UUD 1945 memberikan tempat resmi bagi kehidupan agama-agama (Azra, 2015, hal. 126).

Itulah kenapa Nurcholish Madjid (Cak Nur) menyebutkan Pancasila sebagai “titik temu” antara seluruh golongan (Nurcholish, 2010, hal. 21). Artinya, pancasila menjadi titik pertemuan lintas keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia. Keragaman etnis, suku, bahasa, budaya serta agama merupakan struktur bagi kehidupan berbangsa. Semua unsur keragaman itu tidak ada satupun yang memiliki egoisme-identitas sehingga memaksakan kehendak.

Maka terang bahwa pancasila adalah dasar fundamental bangsa Indonesia. Ia inspirasional begi kehidupan berbangsa. Pancasila menjadi perekat hubungan lintas agama, baik jalinan agama dan Negara. Pancasila menjadi kunci bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Pasang surut sentimen politik hingga agama tidak akan menjadi ancaman serius ketika pancasila dikedepankan sebagai solusi bagi kehidupan yang beragam paripurna ini.

Redaksi
id.philosophia@gmail.com

Related Articles

Ngabuburit PhiloSophia.ID Seri 3 : Pemikiran Thaha Abdurrahman

PhiloSophia.ID - Sabtu, 24 April 2021, hari ke 12 ramadan. Philosophia.id telah kembali menggelar kajian ramadan dengan topik "Etika dan kemanusiaan: Sumbangan Reformasi Modernitas...

FKUB Jawa Timur Gelar Semiloka Moderasi Beragama

MALANG - Pada tanggal 23-25 April 2021, bertempat di Hotel Harris Malang, Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan semiloka Moderasi Beragama...

Ngabuburit PhiloSophia.ID Seri 2 Spesial Hari Kartini

PhiloSophia.ID – 21 April 2021, hari ke-9 bulan Ramadan, kembali philosophia.id menggelar kajian Ramadan seri ke-2. Spesial pada ngabuburit ini philosophia.id memperingati Hari Kartini...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,037FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Latest Articles

Ngabuburit PhiloSophia.ID Seri 3 : Pemikiran Thaha Abdurrahman

PhiloSophia.ID - Sabtu, 24 April 2021, hari ke 12 ramadan. Philosophia.id telah kembali menggelar kajian ramadan dengan topik "Etika dan kemanusiaan: Sumbangan Reformasi Modernitas...

FKUB Jawa Timur Gelar Semiloka Moderasi Beragama

MALANG - Pada tanggal 23-25 April 2021, bertempat di Hotel Harris Malang, Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan semiloka Moderasi Beragama...

Ngabuburit PhiloSophia.ID Seri 2 Spesial Hari Kartini

PhiloSophia.ID – 21 April 2021, hari ke-9 bulan Ramadan, kembali philosophia.id menggelar kajian Ramadan seri ke-2. Spesial pada ngabuburit ini philosophia.id memperingati Hari Kartini...

Launching dan Ngabuburit Bersama PhiloSophia.ID Seri 1

PhiloSophia.ID – Sabtu menjelang magrib, bertepatan hari ke-5 bulan Ramadan, PhiloShopia.ID telah menggelar serial kajian ramadhan. Acara ini dikemas selama satu bulan penuh. Pelaksanaan...

Pentingnya Pendidikan di Masa Sekarang (Tinjauan Filsafat Pendidikan)

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting. Dimasa sekarang pendidikan ialah suatu hal yang harus didapatkan oleh semua orang di dunia. Pendidikan bukan hanya...