Pentingnya Pendidikan di Masa Sekarang (Tinjauan Filsafat Pendidikan)

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting. Dimasa sekarang pendidikan ialah suatu hal yang harus didapatkan oleh semua orang di dunia. Pendidikan bukan hanya sebuah kewajiban saja, melainkan lebih dari itu pendidikan merupakan sebuah kebutuhan yang akan lebih berkembang dengan adanya pendidikan. Tujuan pendidikan pun itu beragam, tergantung pribadi tiap individu itu memandang pendidikan itu sendiri, ada yang memandang pendidikan yang baik dapat memperbaiki status kerjanya, sehingga mendapatkan pekerjaan yang nyaman, ada pula yang memandang pendidikan adalah sebuah alat transportasi untuk membawanya menuju jenjang itu semua.

Pentingnya pendidikan yang baik mulai dari pandangan para ahli, ilmuwan, dan negarawan dari luar spesialis pendidikan. Bahkan para filsuf besar dunia seperti Albert Einstein, Plato, Aristoteles, dan Jhon Dewey telah ikut mendefinisikan tentang hakikat dan tujuan sejati dari sebuah pendidikan. Hal itu tertuang dalam berbagai aliran filsafat pendidikan dunia.

John Dewey merupakan salah satu orang yang telah mengemukakan banyak bukti dalam formulasi arah dan tujuan pendidikan. Pandangan-pandangan yang dikemukakan oleh beliau banyak mempengaruhi pendidikan modern di Amerika. Tetapi sekarang ini pandangan beliau tidak berlaku di Amerika saja tetapi juga di banyak negara lain di seluruh dunia. Beliau sangat menganggap penting pendidikan dalam rangka mengubah dan memperbaharui suatu masyarakat. Beliau percaya bahwa pendidikan dapat berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan keberanian dan pembentukan kemampuan intelegensi. Dengan itu dapat juga diusahakan kesadaran akan pentingnya penghormatan pada hak dan kewajiban yang paling fundemental dari setiap orang. Bagi beliau ilmu mendidik tidak dapat dipisahkan dari filsafat. Pendidikan merupakan kekuatan yang dapat diandalkan untuk menghancurkan kebiasaan yang lama dan membangun kebiasaan yang baru.

Aristoteles juga salah satu orang pemberi arti yang besar dalam pendidikan. Beliau berkata bahwa negara sebaiknya memberikan pendidikan yang baik bagi semua anak-anak. Bagi semua pelajar, beliau menggambarkan tentang idealisme yang tinggi, ketekunan, pengamatan mendalam, cermat dan berpikir secara lugas untuk mendorong berpikir lugas (diharuskan menemukan kebenaran yang tak logis, salah atau kontradiktif dari fakta-fakta atau observasi-observasi). Beliau mendirikan ilmu pendidikan tentang logika (beliau menyebutnya analitik) yang mengemukakan prinsip-prinsip penalaran yang benar.

Pemikiran Ibnu Sina juga banyak keterkaitannya dengan pendidikan, yang menyangkut tentang filsafah ilmu. Menurut beliau pendidikan yang diberikan oleh nabi pada hakikatnya adalah pendidikan kemanusiaan. Pemikiran beliau itu bersifat komperensif. Menurut beliau juga tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan yang dicapai secara bertingkat, sesuai dengan tingkat pendidikan yang dikemukakan oleh beliau, yaitu kebahagiaan pribadi, kebahagiaan rumah tangga, kebahagiaan masyarakat, kebahagiaan manusia secara menyeluruh dan kebahagiaan akhir adalah kebahagiaan manusia di akhirat.

Menurut Geoff Haselhurst juga, pendidikan harus berlandaskan pada kebenaran dan realita, dalam artian bagaimana hal tersebut berhubungan dengan interkoneksi antara pikiran, zat, dan ruang. Interkoneksi ketiga hal tersebut jelas dalam pendidikan dan secara umum dapat dapat disebut sebagai suatu pendekatan ekologis, yang berdiri di atas struktur ruang dari dunia ini.Hubungan antara filsafat dengan teori pendidikan antara lain tergambar dalam: Pertama, Filsafat mengandung arti analisa yang merupakan salah satu metode yang digunakan oleh para pakar-pakar pendidikan dan menyusun konsep (teori-teori) pendidikan; Kedua, Filsafat berfungsi memberikan arah (pedoman) agar teori pendidikan yang telah dikembangkan berdasarkan dan sejalan dengan pandangan dan aliran filsafat tertentu yang memiliki relevansi dengan kehidupan nyata; Ketiga, termasuk juga filsafat pendidikan yang mempunyai fungsi yang semakin dalam memberikan petunjuk dan arah pengembangan teori-teori (konsep-konsep) pendidikan menjadi ilmu pengetahuan atau pedagogik.

Hubungan antara pendidikan dan filsafat pendidikan akan semakin penting, karena filsafat pendidikan menjadi dasar yang menjadi tumpuan suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan menjadi pedoman bagi usaha-usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan sebagai dasar yang kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan.

Pada dasarnya filsafat pendidikan menggunakan cara kerja filsafat  dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab, aliran-aliran, seperti eksistensialisme, esensialisme, progresivisme, parenialisme, rekonstruksionisme, idealisme, realisme, materialisme, pragmatisme.

Salah satu aliran dalam filsafat adalah eksistensialisme, aliran yang fokus pada pengalaman-pengalaman individual. Eksistensialisme memberi individu suatu jalan berpikir mengenai kehidupan, apa maknanya bagi saya, apa yang benar bagi saya. Pada umumnya eksistensialisme menekankan creative choice (pilihan kreatif), subjectivity (subjektivitas) pengalaman manusia, dan tindakan kongkret (real action) dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakikat manusia atau realitas. Eksistensialisme mempunyai beberapa pemikiran dan tawaran dalam dunia pendidikan.

Beberapa ahli teori telah memperluas filsafat eksistensialisme ke filsafat pendidikan dengan menguraikan implikasi pendidikan pada aliran eksistensialisme, seperti Harold Soderquist, Van Cleve Morris, dan George Kneller. Kneller telah menunjukkan bahwa aliran eksistensialis mencakup beberapa pandangan yang berbeda atau tindakan berfilsafat yang menembus berbagai filosofi, yang juga bukan termasuk dalam filsafat sistematik. Eksistensialisme merupakan suatu cara melihat dan berfikir tentang tentang kehidupan di dunia sehingga prioritas diberikan kepada individualisme dan subjektifitas.

Aliran eksistensialisme, misalnya, menekankan bahwa pendidikan harus mampu menyuburkan dan mengembangkan eksistensi subjek yang dididik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, memihak pada perubahan, menumbuhkan dan mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan subjek yang dididik.

Selain itu, aliran esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang dapat memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai data yang jelas. Esensialisme menekankan bahwa berbagai pendidikan harus berfungsi dan relavan dengan kebutuhan sektor, baik itu sektor lokal, nasional maupun sektor internasional. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk seseorang yang berguna dan berkompeten, isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendaknya. Johan Frieddrich Herbart berpendapat bahwa tujuan pendidikan esensialisme adalah untuk menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebijaksanaan dari tuhan. Sedangkan proses pencapaian tujuan pendidikan disebut dengan pengajaran.

Kedua aliran tersebut memberi gambaran yang bersifat saling mengisi atau saling melengkapi bahwa agen pendidikan haruslah siswa atau secara bakunya disebut peserta didik. Peran guru dan tenaga kependidikan lainnya, sarana dan prasarana, organisasi dan kelembagaan dll. Haruslah ditempatkan sebagai fasilitator percaya diri, bukan sentral dari seluruh proses.

Akan tetapi, karena pendidikan tidak bisa dihindari untuk berjalan formal dalam sistem persekolahan, maka aspek keterukuran output dan outcome juga harus ditekankan. Dalam hal ini, haruslah memahami gagasan esensialisme, diperlukan target pencapaian kegiatan pendidikan yang harus menekankan. Dalam hal ini, haruslah memahami gagasan esensialisme, juga diperlukan target kegiatan pendidikan yang dapat membawa manfaat bagi manusia. Oleh karena itu, pendidikan haruslah dikelola dalam manajemen pendidikan yang profesional.

Penekanan pada pentingnya pendidikan tergambar juga dalam pendidikan UNESCO yang menekankan arah pendidikan sebagai belajar untuk mengetahui, belajar melakukan, belajar menjadi, belajar hidup bersama. Don Berg, mendefinisikan pendidikan sebagai kartografi yang menekankan pengalaman-pengalaman dan menemukan berbagai arah untuk bergerak dari kondisi belum optimal menjadi optimal. Proses pendidikan harus ditempatkan sebagai kegiatan mandiri untuk memetakan pengalaman, baik itu pengalaman nyata dalam hidup, maupun pengalaman yang sudah di rencanakan atau dirancang dalam kegian belajar dan menemukan jalan kepada mental yang baik atau sering dikenal dengan keadaan mental yang optimal.

Dengan demikian, pendidikan sekaligus adalah penyelesaian pada proses (mengakses, mengolah, memahami) dan menjadi terdidik yang artinya mampu menciptakan sesuatu yang baru yang ada, memutuskan, mampu memperluas dan memperdalam, serta mengantar keadaan pikiran negatif ke arah keadaan pikiran positif.

Pada prinsipnya, mulailah untuk membuang jauh-jauh pandangan bahwa pendidikan itu mentransfer pengetahuan, informasi, dan ketrampilan belaka. Karena kalau hanya soal itu saja maka tidak perlu adanya pendidikan di zaman sekarang ini, cukup internet saja sepanjang hari, apalagi sekarang dunia internet sudah sangat mudah di akses oleh siapapun, maka anak-anak akan melihat apa yang mereka ingin lihat dan mungkin bisa saja mereka menirunya sebagai bagian dalam praktik hidupnya. Juga buang jauh-jauh pandangan bahwa seorang yang bergelar sarjana, master, doktor, ataupun profesor pastilah pribadi terdidik, apalagi jika dibandingkan dengan petani,  peternak, ataupun koruptor sekalipun.

Karena pendidikan sejatinya, prinsipnya tidak mendidik manusia untuk pintar, tetapi mendampingi dan mengarahkan perkembangan manusia untuk menjadi terdidik dalam arti seluas-luasnya. Menjadi pintar adalah hal yang otomatis ditambahkan kepada pribadi yang terdidik.

Jadi, filsafat memberikan arah agar teori pendidikan yang sudah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata, artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang berkembang dalam masyarakat.

Di samping itu, merupakan kenyataan bahwa setiap masyarakat hidup dengan pandangan filsafat hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lain, dan dengan sendirinya akan menyangkut kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Disinilah letak fungsi filsafat dan filsafat pendidikan dalam memilih dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu bisa juga merevisi teori pendidikan tersebut, yang sesuai dan relevan dengan kebutuhan, tujuan dan pandangan hidup dari masyarakat.

Peranan pendidikan di dalam kehidupan manusia, lebih-lebih dalam zaman modern ini diakui sebagai sesuatu kekuatan yang menentukan prestasi dan produktivitas seseorang. Tidak ada suatu fungsi dan jabatan di dalam masyarakat tanpa melalui proses pendidikan. Seluruh aspek kehidupan memerlukan proses pendidikan dalam arti demikian, terutama berlangsung di dalam dan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal (sekolah, universitas). Akan tetapi pendidikan lebih daripada yang pendidikan formal saja. Di dalam masyarakat keseluruhan terjadi proses pendidikan kembangkan kepribadian manusia. Proses pendidikan yang berlangsung di dalam kehidupan sosial yang di sebut pendidikan informal ini, bahkan berlangsung sepanjang kehidupan manusia.

Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-prinsip pendidikan yang di dasari oleh filsafat pendidikan. Jadi, pendidikan merupakan suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial yang efensial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang.

Bahjatun Naziah
Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Amuntai

Related Articles

Ngabuburit PhiloSophia.ID Seri 3 : Pemikiran Thaha Abdurrahman

PhiloSophia.ID - Sabtu, 24 April 2021, hari ke 12 ramadan. Philosophia.id telah kembali menggelar kajian ramadan dengan topik "Etika dan kemanusiaan: Sumbangan Reformasi Modernitas...

FKUB Jawa Timur Gelar Semiloka Moderasi Beragama

MALANG - Pada tanggal 23-25 April 2021, bertempat di Hotel Harris Malang, Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan semiloka Moderasi Beragama...

Ngabuburit PhiloSophia.ID Seri 2 Spesial Hari Kartini

PhiloSophia.ID – 21 April 2021, hari ke-9 bulan Ramadan, kembali philosophia.id menggelar kajian Ramadan seri ke-2. Spesial pada ngabuburit ini philosophia.id memperingati Hari Kartini...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,037FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Latest Articles

Ngabuburit PhiloSophia.ID Seri 3 : Pemikiran Thaha Abdurrahman

PhiloSophia.ID - Sabtu, 24 April 2021, hari ke 12 ramadan. Philosophia.id telah kembali menggelar kajian ramadan dengan topik "Etika dan kemanusiaan: Sumbangan Reformasi Modernitas...

FKUB Jawa Timur Gelar Semiloka Moderasi Beragama

MALANG - Pada tanggal 23-25 April 2021, bertempat di Hotel Harris Malang, Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan semiloka Moderasi Beragama...

Ngabuburit PhiloSophia.ID Seri 2 Spesial Hari Kartini

PhiloSophia.ID – 21 April 2021, hari ke-9 bulan Ramadan, kembali philosophia.id menggelar kajian Ramadan seri ke-2. Spesial pada ngabuburit ini philosophia.id memperingati Hari Kartini...

Launching dan Ngabuburit Bersama PhiloSophia.ID Seri 1

PhiloSophia.ID – Sabtu menjelang magrib, bertepatan hari ke-5 bulan Ramadan, PhiloShopia.ID telah menggelar serial kajian ramadhan. Acara ini dikemas selama satu bulan penuh. Pelaksanaan...

Pentingnya Pendidikan di Masa Sekarang (Tinjauan Filsafat Pendidikan)

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting. Dimasa sekarang pendidikan ialah suatu hal yang harus didapatkan oleh semua orang di dunia. Pendidikan bukan hanya...