TEORI EMANASI DAN SIFAT AKAL MENURUT IBNU SINA

Ketika kita membahas filosof Islam, pasti kita tidak akan terlepas dari Al-Kindi. Namun saat ini bahasan yang sangat menarik ialah mengenai Ibnu Sina. Pemilik nama lengkap Abu Ali Al-Husain Bin Abdullah Bin Sina ialah filosof muslim yang berhasil menegakkan bangunan Neoplatonis di atas dasar kosmologi Aristotelesptolemi. Dari bangunan tersebut beliau menggabungkan beberapa konsep alam wujud yang muncul berdasarkan teori emanasi yang bernuansa Islami. Beliau dibesarkan di Bukhara saat menginjak usia 10 tahun.

Saat beliau memahami alam fikiran metafisika dari Aristoteles, beliau mengalami hambatan dalam kesulitan untuk memahami, walaupun sudah dibaca berulang-ulang sampai 40 kali, beliau tetap belum memahaminya. Namun kesulitan tersebut dapat terselesaikan oleh sebuah risalah pendek karangan Al-Farabi. Menurutnya sebuah keajaiban yang tidak disengaja, disaat adanya kesulitan beliau menemukan secara kebetulan di toko loak saat belajar di pinggir pasar. Dengan hal ini, beliau menganggap bahwa Al-Farabi ialah guru keduanya.

Ibnu Sina semasa hidupnya tidak bergelut di dunia politik dan negara saja melainkan menjadi seorang filosof muslim yang produktif, beliau telah menulis lebih dari 100 buku. Karya beliau sangat berpengaruh bagi kelancaran studi generasi sekarang dan selanjutnya, sampai kapanpun akan terus berpengaruh. 

Bagi filosof muslim, kesulitan-kesulitan yang menghambat untuk terus mengembangkan ilmu sangatlah wajar. Seperti yang dialami Ibnu Sina dalam terjerumusnya masalah tentang alam, beliau sangatlah kesulitan untuk menjelaskan masalah ini, bagaimana terjadinya alam yang berasal dari Allah yang Maha Sempurna. Teori ini masuk kedalam teori al-Faidh atau Filsafat Emanasi yang artinya teori pancaran tentang penciptaan alam. Tidaklah mudah bagi Ibnu Sina dalam memecahkan masalah ini, namun beliau memilih keputusan dengan memecahkan dengan teori emanasi (pancaran). Harus kita ketahui bahwa teori emanasi bukanlah teori milik Ibnu Sina tetapi berasal dari Neoplatonisme.

Ibnu Sina mengambil kutipan bermaksa dari filsafat Plotinys yang bertuliskan, “Dari yang satu hanya satu yang melimpah” (De Boer: 198). Dengan hal ini, kita bisa memahami bahwa Tuhan bergerak (Prime Cause) dari doktrin spekulatif filsafat Yunani yang dikemukakan oleh Aristoteles, kini bergeser menjadi Tuhan pencipta (Shani, Agent) dari suatu hal yang secara pancaran.

Ketika kita amati, filsafat emanasi Ibnu Sina ternyata tidak jauh beda dengan teori emanasi menurut al-Farabi, “bahwa Tuhan memancar ala pertama, dan dari akal pertama memancar akal kedua, dan langit pertama”. Demikianlah seterusnya, sehingga sampai akal ke sepuluh dan bumi. Lalu dari akal kesepulih memancar ke semua yang ada di bumi yang berada di bawah bulan. Akal pertama ialah malaikat tertinggi dan akal kesepuluh ialah malaikat Jibril. Ada juga sebuah proses yang melimpahkan, menurut Ibny Sina ialah Allah memikirkan tentang dirinya, maka melimpahkan akal pertama yang memiliki kandungan dalam dirinya kejamaan potensial, ialah antara mungkin atau wajib, dari segi zatnya dan segi wujudnya yang nyata.

Berlawanan dengan al-Farabi yang memiliki pendapat bahwasannya akal pertama memiliki satu sifat yakani wujud, dan tiap wujud hanyalah melahirkan dua macam, ialah wujud selanjutnya dan langit atau planet. Namun, Ibnu Sina berpendapat bahwasannya akal pertama memiliki dua sifat yaitu wajib wujud pancaran dari Tuhan dan sifat mungkin wujud. Bukankah sudah terlihat perbedaan pendapat dari al-Farabi dan Ibnu Sina? Hal ini sudah lumrah adanya perbedaan pendapat. Namun, Ibnu Sina memiliki tiga obyek pemikiran, yakni Tuhan dirinya sebagai wajib wujudnya. Hal ini berasal dari sebuah pemikiran tentang Tuhan timbula beberapa akal dari sebuah pemikiran tentang dirinya sebagai wajib wujudnya tumbul jiwa-jiwa, dan dari pemikiran tentang dirinya sendiri sebagai mungkin wujud timbul langit-langit.

Teori emanasi dari Ibnu Sina juga membuahkan hasil yang sangat memuaskan, ialah sepuluh akal dalam sembilan planet. Sembila planet dan akal kesepuluh mengurusi bumi. Hal ini berbeda dengan al-Farabi. Bagi Ibnu Sina, setiap jiwa memiliki fungsi sebagai penggerak satu planet, karena akal tidak bisa langsung menggerakan planet yang bersifat materi. Menurut Ibnu Sina, Tuhan tidak bisa secara langsung menciptakan alam yang memiliki banyak unsur. Jikalau Tuhan berhubungan langsung dengan alam yang memiliki jumlah unsur yang banyak ini, tentulah dalam pemikiran Tuhan terdapat hal yang plural. Maka dari itu Ibnu Sina mengajukan teori emanasi dengan tujuan mentauhidkan Tuhan semutlak-mutlaknya. Namun, hal tersebut mengenai Tuhan menciptakan alam telah merusak citra tauhid, ke Esa-an Tuhan menjadi tergoyahkan.

Dalam Islam, teori emanasi ini telah menjalankan cara Tuhan menciptakan alam. Alam yang sudah qath’i al-dalalah, diciptakan oleh Tuhan, dan bersifat Kholik. Kekhalikan Tuhan harus diimani secara utuh tanpa adanya noda yang menggoyahkan oleh setiap umat muslim. Bagi seseorang yang mengingkarinya, jelaslah orang tersebut ialah orang yang kafir. Oleh karena itu, dalam Islam disebutkan bahwa sifat Tuhan yang bersifat aktif atau Khalik atau ism fa’il, secara metafora yang berakibat bagi Mentari dengan sinar merupakan ibarat yang akan menyesatkan. Tidak terlepas dari filsafat emanasi, alam ini qadim, sebab alam diciptakan oleh Allah sejak zaman azali. Adanya perbedaan yang terletak pada sebab dari pembuatan alam terwujud. Namun dengan begitu keberadaan alam tidak diketahui oleh zaman, maka alam qadim dari zaman (taqaddum zaman).

Faradilla Nur Aulia Rahma
Mahasiswa IAIN Kediri

Related Articles

Ngabuburit PhiloSophia.ID Seri 3 : Pemikiran Thaha Abdurrahman

PhiloSophia.ID - Sabtu, 24 April 2021, hari ke 12 ramadan. Philosophia.id telah kembali menggelar kajian ramadan dengan topik "Etika dan kemanusiaan: Sumbangan Reformasi Modernitas...

FKUB Jawa Timur Gelar Semiloka Moderasi Beragama

MALANG - Pada tanggal 23-25 April 2021, bertempat di Hotel Harris Malang, Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan semiloka Moderasi Beragama...

Ngabuburit PhiloSophia.ID Seri 2 Spesial Hari Kartini

PhiloSophia.ID – 21 April 2021, hari ke-9 bulan Ramadan, kembali philosophia.id menggelar kajian Ramadan seri ke-2. Spesial pada ngabuburit ini philosophia.id memperingati Hari Kartini...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,037FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Latest Articles

Ngabuburit PhiloSophia.ID Seri 3 : Pemikiran Thaha Abdurrahman

PhiloSophia.ID - Sabtu, 24 April 2021, hari ke 12 ramadan. Philosophia.id telah kembali menggelar kajian ramadan dengan topik "Etika dan kemanusiaan: Sumbangan Reformasi Modernitas...

FKUB Jawa Timur Gelar Semiloka Moderasi Beragama

MALANG - Pada tanggal 23-25 April 2021, bertempat di Hotel Harris Malang, Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan semiloka Moderasi Beragama...

Ngabuburit PhiloSophia.ID Seri 2 Spesial Hari Kartini

PhiloSophia.ID – 21 April 2021, hari ke-9 bulan Ramadan, kembali philosophia.id menggelar kajian Ramadan seri ke-2. Spesial pada ngabuburit ini philosophia.id memperingati Hari Kartini...

Launching dan Ngabuburit Bersama PhiloSophia.ID Seri 1

PhiloSophia.ID – Sabtu menjelang magrib, bertepatan hari ke-5 bulan Ramadan, PhiloShopia.ID telah menggelar serial kajian ramadhan. Acara ini dikemas selama satu bulan penuh. Pelaksanaan...

Pentingnya Pendidikan di Masa Sekarang (Tinjauan Filsafat Pendidikan)

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting. Dimasa sekarang pendidikan ialah suatu hal yang harus didapatkan oleh semua orang di dunia. Pendidikan bukan hanya...